
Rick and Morty: The Anime adalah adaptasi anime dari serial animasi Amerika populer Rick and Morty, yang diproduksi oleh Studio DEEN. Serial ini mencoba menghadirkan perspektif baru dengan menggabungkan elemen khas anime Jepang ke dalam dunia absurd yang sudah dikenal oleh penggemar Rick dan Morty. Namun, apakah eksperimen ini berhasil?
Studio DEEN, yang dikenal melalui karya seperti Fate/stay night dan KonoSuba, bertanggung jawab atas produksi anime ini. Dengan pengalaman panjang dalam industri anime, mereka mencoba mengintegrasikan estetika anime tradisional ke dalam desain karakter dan latar Rick and Morty. Hasilnya adalah visual yang lebih tajam dengan warna-warna lebih hidup dibandingkan dengan animasi aslinya.
Namun, ada kritik yang muncul terkait kualitas animasi. Beberapa penggemar mencatat bahwa beberapa adegan terasa kaku, dan ada inkonsistensi dalam fluiditas gerakan, sesuatu yang sering menjadi keluhan dalam proyek Studio DEEN sebelumnya. Meski begitu, gaya sinematografi dan sudut kamera yang lebih dramatis memberikan nuansa baru yang khas anime Jepang.
Salah satu aspek menarik dari anime ini adalah bagaimana Studio DEEN berhasil menyesuaikan desain karakter agar lebih sesuai dengan estetika anime tanpa menghilangkan identitas asli dari serial aslinya. Dalam beberapa adegan, ekspresi wajah karakter lebih diperkuat dengan detail yang lebih halus, terutama dalam momen emosional.
Selain itu, pemilihan palet warna dan efek visual juga menunjukkan pendekatan yang lebih dinamis. Jika dalam versi aslinya, Rick and Morty cenderung menggunakan warna-warna neon dan desain sederhana, versi anime ini lebih berani bereksperimen dengan pencahayaan yang dramatis serta penggunaan bayangan yang lebih tegas.
Alur Cerita dan Pendekatan Naratif
Alih-alih hanya mengulang cerita dari serial aslinya, Rick and Morty: The Anime mengeksplorasi alur baru yang lebih dalam. Pendekatan ini memungkinkan eksplorasi tema yang lebih kompleks, seringkali dengan sentuhan emosional yang lebih kuat dibandingkan versi aslinya yang lebih mengandalkan humor sarkastik.
Beberapa episode membawa kita pada perjalanan yang lebih filosofis, mengeksplorasi konsep eksistensialisme dengan cara yang lebih mendalam daripada versi aslinya. Contohnya, ada satu episode yang mengisahkan Rick yang terjebak dalam realitas alternatif di mana ia bukan ilmuwan jenius, melainkan seorang pria biasa dengan kehidupan monoton. Episode ini mengeksplorasi pertanyaan tentang apakah kecerdasan benar-benar merupakan berkah atau justru kutukan.
Namun, pendekatan ini tidak lepas dari kritik. Beberapa penggemar merasa bahwa narasi anime ini terkadang terlalu rumit dan berat, menyerupai fan fiction yang terlalu ambisius. Jika versi asli Rick and Morty dikenal dengan humor yang tajam dan nihilistik, versi anime ini lebih menitikberatkan pada drama dan karakterisasi yang lebih emosional.
Karakter dalam Adaptasi Anime
Salah satu aspek yang paling menarik dari adaptasi ini adalah bagaimana karakter-karakternya mengalami sedikit perubahan dalam kepribadian dan penyampaian cerita. Rick, yang biasanya digambarkan sebagai seorang ilmuwan jenius yang sarkastik dan sinis, terasa memiliki lebih banyak momen reflektif dalam versi anime. Sementara itu, Morty tampak lebih percaya diri dibandingkan dengan versi aslinya yang cenderung ragu-ragu dan sering panik.
Selain itu, pengisi suara Jepang memberikan nuansa berbeda bagi karakter-karakter utama. Beberapa penggemar menyukai perubahan ini, tetapi yang lain merasa kehilangan keunikan gaya bicara Rick yang khas dengan suara serak Justin Roiland.